19 Oktober 2010 - 20:30

Pimpinan utama organisasi Internasional Ahlul Bait menyebutkan bahwa terjemahan Al Qur’an sampai saat inimasih kurang. Beliau berkata, “Sampai saat ini, AlQur’an baru diterjemahkan kedalam 50 bahasa dunia”.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujattul Islam Wal Muslimin Muhammad Hasan Ahtari dalam acara pameran bertema “Kota Suci Radhawi (Mashad) Hadir ke Kancah Internasional” menjelaskan bahwa kitab injil sudah diterjemahkan kedalam 400 bahasa dunia sedangkan Al-Qu’ran baru diterjemahkan kedalam 50 bahasa dunia, menurutnya ini menunjukkan bahwa umat Islam masih kurang aktif dibidang penerjemahan Al-Qur’an, karenanya harus lebih aktif lagi. Beliau mengisyaratkan agar dalam penerjemahan digunakan segala kemampuan yang dimiliki. Beliau mengatakan, ”kita harus menggunakan berbagai perangkat seperti Film, CD, buku dan segala hal yang memungkinkan sehingga kita bisa menyampaikan kalam Ilahi ini  ke masyarakat di seluruh penjuru dunia."

Beliau dengan menyitir keberadaan tujuh milyar manusia dibumi yang ingin mendapatkan penjelasan dari umat islam memaparkan, “Jika memiliki materi untuk disampaikan dan mampu memperkenalkan Al-Quran ke hadapan dunia maka ada tujuh milyar manusia yang sedang menunggu karya kita”. Terkait dengan upaya musuh-musuh Islam, beliau berkata, “Pergerakan yang menyeluruh terkait revolusi sudah dilakukan dan semua berusaha memberikan andil terbaik sesuai kemampuan masing-masing”.

Terkait keberadaan 77 ribu satelit dia menjelaskan bahwa 70 persen darinya berkecimpung dalam masalah agama, 60 persen darinya tentang kristionologi, 10 persen darinya tentang Islamologi dan sisanya dihususkan untuk ilmu ahlak dan ilmu-ilmu yang lain, dan disini kita harus lebih aktif disini. Terkait ketidakmampuan umat Islam untuk berkarya pada orang non muslim, dia menambahkan  “Memang Kita tidak bisa masuk ke bagian ini dengan baik, namun ini perlu kita pikirkan karena sebenarnya agama islam dibutuhkan banyak orang”.

Akhtari berhubung satelit yang ada belum bisa maksimal memperkenalkan Islam secara baik, berkata,” Jumlah satelit ini hanya bisa dihitung dengan jari, namun kenyataannya bisa memaparkan sejarah dan tatanan Islam dengan baik dimata dunia, karenanya tekhnologi satelit ini harus lebih diperkuat sehingga bisa memperluas jangkauannya”.

Berkaitan dengan tema acara, "Kota Mashad ke Kancah Internasional" berkata , ”Kota Mashad memiliki potensi yang besar dalam hal ini, dan mampu mendakwahkan agama Islam melalui satelit maupun media masa yang lain. Kota Mashad sekarang sudah memiliki tempat tersendiri di mata dunia, jika dilakukan dengan serius maka Mashad bisa memberi pencerahan yang sangat berarti bagi dunia."